Presiden Kolombia Menyalahkan Pemberontak atas Pengeboman Jalan Raya yang Menewaskan 14 Orang

Sebuah ledakan dahsyat terjadi di jalan raya di selatan. Kolumbia telah menewaskan setidaknya 14 orang dan melukai puluhan orang lainnya, termasuk anak-anak, dalam serangan yang menurut pihak berwenang dilakukan oleh pemberontak gerilya.

Ledakan terjadi di wilayah Cauca, meninggalkan kendaraan yang hancur, puing-puing berserakan, dan kerusakan parah di sepanjang jalan. Video yang dibagikan dari lokasi kejadian menunjukkan skala kehancuran, dengan banyak kendaraan terbalik dan jalan raya berubah menjadi zona kekacauan.

Presiden Kolombia Gustavo Petro mengatakan serangan itu adalah ulah pemberontak yang terkait dengan faksi-faksi pembangkang dari Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia, atau Farc. Dalam pernyataan yang bernada keras, ia menggambarkan mereka yang bertanggung jawab sebagai teroris, fasis, dan pengedar narkoba, dan mengatakan bahwa ia ingin tentara terbaik negara itu dikirim untuk menghadapi mereka.

Pemboman tersebut menambah kekhawatiran yang semakin meningkat terkait keamanan di Kolombia, terutama karena negara itu akan memasuki periode pemilihan presiden yang tegang.

Pihak Berwenang Mengatakan Faksi-Faksi Pembangkang Farc yang Harus Disalahkan

Tuduhan Petro mengarah pada ketidakstabilan berkepanjangan yang melibatkan kelompok-kelompok pecahan FARC. Meskipun pemerintah Kolombia menandatangani perjanjian damai dengan FARC pada tahun 2016 yang menyebabkan ribuan pejuang demobilisasi, beberapa faksi menolak perjanjian tersebut dan terus beroperasi di luar proses tersebut.

Kelompok-kelompok sempalan itu tetap aktif di beberapa bagian negara dan sering dikaitkan dengan perdagangan narkoba dan kekerasan terorganisir. Serangan terbaru di Cauca kini dipandang sebagai salah satu insiden paling serius di wilayah yang sudah bergulat dengan aksi bersenjata berulang.

Gubernur setempat, Octavio Guzman, menggambarkan pemboman itu sebagai tindakan tanpa pandang bulu dan mengatakan Cauca tidak bisa dibiarkan menghadapi tingkat kekerasan seperti ini sendirian. Pernyataannya mencerminkan meningkatnya frustrasi di kalangan pejabat regional yang mengatakan daerah tersebut berada di bawah tekanan tanpa henti dari kelompok-kelompok bersenjata.

Presiden Kolombia Menyalahkan Pemberontak atas Pengeboman Jalan Raya yang Menewaskan 14 Orang

Saksi Mata Menggambarkan Ledakan Dahsyat dan Kekerasan yang Meluas

Orang-orang di lokasi kejadian mengatakan kekuatan ledakan itu sangat dahsyat sehingga melemparkan beberapa dari mereka beberapa meter jauhnya. Gambar dan keterangan saksi mata menggarisbawahi skala ledakan dan ketakutan yang ditimbulkannya di antara penduduk dan para pelancong di daerah tersebut.

Pihak berwenang juga melaporkan serangkaian serangan kecil di Cauca sejak Jumat. Menurut gubernur, salah satu insiden tersebut menargetkan pangkalan militer di kota Cali dan menyebabkan dua orang terluka.

Menteri Pertahanan Pedro Arnulfo Sánchez mengatakan serangan besar lainnya mungkin telah dihindari sebelumnya pada hari itu ketika sebuah bus yang berisi bahan peledak gagal meledak di wilayah yang sama. Ia mengaitkan upaya pengeboman tersebut dengan anggota kartel perdagangan narkoba.

Jika digabungkan, insiden-insiden tersebut menunjukkan gelombang kekerasan yang lebih luas daripada sekadar tindakan terisolasi, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa kelompok-kelompok bersenjata sedang mengintensifkan operasi mereka di bagian-bagian strategis negara tersebut.

Krisis Keamanan Berbenturan dengan Kampanye Kepresidenan

Kekerasan terbaru ini terjadi hanya satu bulan sebelum pemilihan presiden Kolombia pada 31 Mei, sehingga serangan tersebut memiliki bobot politik yang signifikan.

Petro, yang dulunya juga seorang pejuang gerilya, telah menghabiskan sebagian besar masa kepresidenannya untuk mengejar strategi perdamaian kontroversial yang bertujuan untuk bernegosiasi dengan berbagai kelompok bersenjata. Pendekatan itu mencakup gencatan senjata berkala dan periode pengurangan kekerasan, tetapi upaya untuk membawa kelompok-kelompok pembangkang Farc ke dalam proses perdamaian yang stabil sebagian besar telah gagal.

Dengan masa jabatannya yang akan berakhir akhir tahun ini, situasi keamanan kini menjadi isu utama dalam kampanye pemilihan. Kandidat sayap kiri Ivan Cepeda, yang didukung oleh Petro, menyerukan lebih banyak negosiasi dengan kelompok pemberontak.

Sementara itu, kandidat oposisi dari sayap kanan, termasuk Paloma Valencia dan Abelardo De la Espriella, telah menjanjikan respons militer yang jauh lebih keras dan penindakan terhadap organisasi pemberontak.

Serangan Ini Menyoroti Konflik Kolombia yang Belum Selesai

Pemboman di Cauca merupakan pengingat yang jelas bahwa konflik di Kolombia tidak berakhir dengan perjanjian damai tahun 2016. Meskipun kesepakatan itu bersejarah, kesepakatan tersebut meninggalkan faksi-faksi bersenjata yang terus bertempur, memperluas jaringan kriminal, dan menantang negara di wilayah-wilayah yang rentan.

Kini, dengan adanya warga sipil yang tewas, anak-anak di bawah umur termasuk di antara yang terluka, dan lebih banyak serangan yang dilaporkan, kekerasan tersebut sekali lagi mengungkap betapa rapuhnya keamanan di beberapa bagian negara ini.

Saat Kolombia semakin mendekati hari pemilihan, pemboman Cauca kemungkinan akan mempertajam perdebatan tentang apakah negara tersebut membutuhkan lebih banyak dialog dengan kelompok bersenjata atau strategi keamanan yang lebih keras. Bagi banyak warga Kolombia, realitas yang ada saat ini lebih sederhana dan lebih menyakitkan: serangan mematikan lainnya, lebih banyak nyawa yang hilang, dan ketakutan yang diperbarui tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya.