Dua anggota parlemen Partai Republik terkemuka di Amerika Serikat mengkritik keputusan Pentagon untuk mengurangi 5,000 tentara yang ditempatkan di Jerman, memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat melemahkan daya jera di Eropa dan mengirimkan pesan yang menggembirakan kepada Rusia.
Roger Wicker dan Mike Rogers, yang memimpin komite layanan bersenjata Senat dan DPR, mengatakan bahwa pasukan tidak boleh ditarik dari Eropa pada saat ketegangan dengan Moskow masih berlangsung. Sebaliknya, mereka berpendapat bahwa pasukan tersebut akan lebih baik ditempatkan lebih jauh ke timur, di mana mereka dapat memperkuat postur pertahanan aliansi dan meyakinkan anggota NATO di garis depan.
Kritik mereka menyoroti kekhawatiran yang semakin meningkat di Washington bahwa pengurangan kehadiran militer AS di Jerman bisa terjadi pada saat yang salah, terutama karena sekutu Eropa meningkatkan pengeluaran pertahanan dan Rusia tetap menjadi ancaman keamanan utama.
Pentagon Membela Keputusan Tersebut di Tengah Sinyal Trump Akan Melakukan Pemotongan Anggaran Lebih Lanjut
Pentagon mengatakan langkah tersebut diambil setelah peninjauan menyeluruh terhadap kebutuhan militer dan mencerminkan kondisi di lapangan. Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengatakan keputusan tersebut mempertimbangkan kebutuhan operasional di wilayah tersebut dan penarikan pasukan akan dilakukan selama enam hingga dua belas bulan ke depan.
Presiden Donald Trump bahkan melangkah lebih jauh pada hari Sabtu, dengan mengatakan bahwa pengurangan tersebut tidak akan berhenti pada 5,000 tentara dan mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat berencana untuk mengurangi jumlah pasukan secara lebih drastis. Ia tidak memberikan rincian lebih lanjut, tetapi pernyataannya segera menimbulkan kekhawatiran bahwa langkah saat ini mungkin hanya awal dari pengurangan yang lebih luas di Eropa.
Saat ini, Amerika Serikat memiliki lebih dari 36,000 pasukan aktif di Jerman, menjadikannya penempatan militer terbesar Washington di seluruh Eropa. Jejak tersebut masih jauh lebih besar daripada di Italia atau Inggris Raya, dan pengurangan yang signifikan akan membawa konsekuensi strategis dan simbolis yang besar.
Pejabat Jerman dan NATO Mencari Kejelasan
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menggambarkan langkah Pentagon sebagai hal yang dapat diprediksi, tetapi menekankan bahwa kehadiran pasukan Amerika di Eropa, khususnya di Jerman, tetap demi kepentingan kedua negara.
Tanggapannya menunjukkan bahwa Berlin telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan pengurangan tersebut, sekaligus memperjelas bahwa Jerman masih memandang peran AS sebagai hal yang sentral bagi keamanan Eropa.
NATO juga bereaksi dengan hati-hati, mengatakan bahwa mereka sedang mencari klarifikasi dari Washington tentang pengurangan pasukan tersebut. Aliansi tersebut kini mencoba memahami bagaimana keputusan itu sesuai dengan pendekatan AS yang lebih luas terhadap Eropa pada saat anggota-anggotanya sudah khawatir tentang kekuatan persatuan transatlantik.

Partai Republik Terpecah Pendapat Mengenai Dampaknya
Wicker dan Rogers mengatakan mereka sangat prihatin dengan keputusan penarikan pasukan, terutama karena sekutu Eropa sedang berupaya mengalokasikan lebih banyak PDB mereka untuk pertahanan. Menurut mereka, mengurangi kehadiran Amerika di garis depan sebelum kemampuan tersebut sepenuhnya siap berisiko melemahkan daya pencegahan dan mengirimkan pesan yang salah kepada Vladimir Putin.
Mereka berpendapat bahwa mempertahankan posisi yang kuat di Eropa masih sesuai dengan kepentingan nasional AS dan mengatakan bahwa memindahkan pasukan ke arah timur akan lebih masuk akal daripada menarik mereka dari benua tersebut.
Tidak semua anggota Partai Republik setuju. Perwakilan Clay Higgins tampaknya mendukung keputusan pemerintah, menggunakan momen tersebut untuk mengejek Senat dan menganggap enteng langkah tersebut di media sosial. Perpecahan itu menunjukkan bahwa bahkan di dalam partai Trump sendiri, tidak ada satu pandangan pun tentang seberapa besar Amerika Serikat harus tetap berkomitmen secara militer di Eropa.
Partai Demokrat Mengatakan Langkah Itu Tidak Memiliki Logika Strategis
Kritik dari pihak Demokrat lebih tajam. Adam Smith, pemimpin Demokrat di komite layanan bersenjata DPR, mengatakan keputusan itu tidak didasarkan pada strategi keamanan nasional yang koheren atau analisis serius. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa keputusan itu mencerminkan frustrasi politik dan dendam pribadi Trump.
Klaim itu mendapat perhatian ekstra karena penarikan pasukan terjadi tak lama setelah Trump menyerang Kanselir Jerman Friedrich Merz atas pernyataannya tentang perang Iran. Merz mengatakan Amerika Serikat dipermalukan oleh para negosiator Iran dan menuduh Washington tidak memiliki strategi yang jelas. Trump menanggapi dengan menuduh pemimpin Jerman itu tidak memahami masalah tersebut, dan tak lama kemudian Pentagon mengumumkan pengurangan pasukan.
Rangkaian kejadian itu telah memicu kecurigaan di kalangan kritikus bahwa langkah tersebut mungkin didorong setidaknya sebagian oleh kemarahan politik daripada perencanaan pertahanan.
Kekhawatiran yang Lebih Luas Meningkat di Seluruh Eropa
Keputusan terbaru ini telah menambah kecemasan yang lebih luas di dalam NATO tentang masa depan aliansi tersebut. Trump juga menyarankan pengurangan penempatan pasukan AS di Italia dan Spanyol, sementara Washington telah mengurangi kehadirannya di Rumania tahun lalu sebagai bagian dari pergeseran fokus militer ke arah Indo-Pasifik.
Bagi banyak pemimpin Eropa, kekhawatiran bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang pesan yang disampaikan. Jika Amerika Serikat tampak kurang berkomitmen terhadap Eropa sementara Rusia tetap menjadi ancaman, hal itu dapat melemahkan kepercayaan di seluruh aliansi.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk memperingatkan bahwa bahaya terbesar bagi komunitas transatlantik bukanlah musuh-musuh dari luar, melainkan pelemahan internal aliansi itu sendiri. Komentarnya mencerminkan kekhawatiran bahwa keputusan-keputusan seperti itu secara bertahap dapat mengikis kohesi NATO pada saat yang kritis.
Pengeluaran Pertahanan Telah Berubah, tetapi Ketegangan Tetap Ada
Trump sering menuduh Jerman gagal mengalokasikan anggaran pertahanan yang cukup, menyebut negara itu lalai di masa lalu karena berada di bawah tolok ukur NATO. Namun, gambaran itu telah berubah dalam beberapa tahun terakhir.
Di bawah pemerintahan Olaf Scholz dan Friedrich Merz, Jerman telah secara signifikan meningkatkan pengeluaran pertahanan dan kini diproyeksikan akan menghabiskan lebih dari €105 miliar untuk pertahanan pada tahun 2027. Secara keseluruhan, pengeluaran pertahanan Berlin diperkirakan akan mencapai 3.1 persen dari PDB jika pengeluaran terkait keamanan yang lebih luas disertakan, termasuk bantuan untuk Ukraina.
NATO telah menunjuk perkembangan tersebut sebagai bukti bahwa Eropa memikul lebih banyak tanggung jawab. Namun demikian, pengurangan pasukan telah menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa meskipun negara-negara Eropa berinvestasi lebih banyak, AS mungkin mengurangi komitmennya sendiri terlalu cepat.
Bagi para kritikus langkah tersebut, itulah masalah utamanya. Pada saat NATO berupaya menunjukkan kekuatan dan persatuan, penarikan pasukan dari Jerman berisiko menciptakan kesan sebaliknya: aliansi yang terpecah, kepemimpinan yang tidak pasti, dan sinyal kepada Moskow bahwa tekad Barat mungkin melemah.