Israel Mendorong Rencana Pemukiman 'Mematikan' di Yerusalem Timur yang Diduduki

Israel sedang bersiap untuk mendorong dua proyek pemukiman besar di wilayah pendudukan. Jerusalem TimurUsulan-usulan yang menurut para pejabat dan analis Palestina dapat memberikan pukulan telak terhadap harapan akan negara Palestina yang utuh.

Menurut pemerintah provinsi Yerusalem, otoritas Israel diperkirakan akan meninjau rencana pembangunan sekitar 9,000 unit pemukiman di lokasi bekas Yerusalem. Bandara Qalandiya, juga dikenal sebagai Atarot. Rencana terpisah di Syekh Jarrah akan menggusur sekitar 40 keluarga Palestina.

Untuk menilai implikasi yang lebih luas, Al Jazeera berbicara dengan Suhail Khalilieh, seorang analis politik yang mengkhususkan diri dalam kebijakan pemukiman Israel.


Dukungan AS dan 'Faktor Trump'

Khalilieh mengatakan bahwa kebangkitan kembali proyek Atarot, yang sempat ditangguhkan pada akhir tahun 2025, mencerminkan perubahan kondisi geopolitik setelah pembicaraan baru-baru ini antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump.

“Pertemuan itu secara efektif menandakan persetujuan untuk perluasan pemukiman yang berkelanjutan,” kata Khalilieh. Dia menambahkan bahwa sikap Washington terhadap Yerusalem — memperlakukannya sebagai wilayah di luar negosiasi masa depan apa pun — telah mendorong otoritas Israel untuk melanjutkan proyek-proyek yang sebelumnya menghadapi penolakan internasional.

Menurutnya, kritik internasional semakin terbatas pada keberatan verbal tanpa konsekuensi nyata.


Menggambar Ulang Geografi Yerusalem

Proyek Atarot lebih dari sekadar perumahan, demikian argumen Khalilieh, menggambarkannya sebagai bagian dari rencana strategis untuk membentuk kembali Yerusalem dan sekitarnya.

Dia mengatakan proyek ini sesuai dengan tiga koridor pemukiman utama yang dimaksudkan untuk melengkapi visi "Yerusalem Raya":

  • Utara: Atarot akan menghubungkan Yerusalem Timur dengan blok pemukiman Givat Zeev, memutus hubungan kota itu dari Ramallah.

  • Timur: Rencana E1 bertujuan untuk menghubungkan Yerusalem Timur dengan blok Maale Adumim.

  • Selatan: Ekspansi di Har Gilo dan usulan pemukiman Nahal Heletz akan mengikat kota tersebut ke blok Gush Etzion.

Menurut Khalilieh, secara bersama-sama, langkah-langkah ini akan secara dramatis memperluas wilayah Yerusalem yang dikuasai Israel, sehingga pendirian ibu kota Palestina di Yerusalem Timur hampir mustahil.

Israel Mendorong Rencana Pemukiman 'Mematikan' di Yerusalem Timur yang Diduduki


Tekanan terhadap Permukiman Palestina

Secara paralel, proyek Nahalat Shimon di Sheikh Jarrah berfokus pada area di sekitar Kota Tua, bagian dari apa yang digambarkan Khalilieh sebagai upaya jangka panjang untuk mengepung lingkungan Palestina.

“Tujuannya adalah untuk memecah komunitas seperti Silwan, Bukit Zaitun, dan Sheikh Jarrah menjadi kantong-kantong terisolasi,” katanya, seraya memperingatkan bahwa hal ini akan mengikis kesinambungan sosial dan geografis kehidupan Palestina di kota tersebut.

Ia menambahkan bahwa meningkatnya pembongkaran dan aktivitas pemukiman di sekitar Kota Tua berisiko secara bertahap memaksa warga Palestina untuk keluar.


Kekhawatiran tentang 'Penggusuran Diam-diam'

Khalilieh mengatakan bahwa pihak berwenang Israel sering kali membingkai proyek-proyek semacam itu dengan bahasa perencanaan yang netral seperti "pembaruan perkotaan," yang menyamarkan apa yang ia gambarkan sebagai kebijakan penggusuran.

Dia menunjuk pada peningkatan tajam pembongkaran rumah di Yerusalem Timur dan tekanan ekonomi seperti penyatuan pajak kota Arnona, yang mengharuskan penduduk di daerah Palestina yang lebih miskin untuk membayar tarif yang sama dengan penduduk di lingkungan Israel yang lebih kaya.

“Gabungan tekanan-tekanan ini sama dengan bentuk pemindahan paksa yang dilakukan secara diam-diam,” katanya.


Seruan untuk Tindakan Internasional yang Mendesak

Khalilieh memperingatkan bahwa begitu pembangunan dimulai, membalikkan perkembangan di lapangan menjadi sulit secara politik dan praktis. Ia mendesak intervensi hukum dan diplomatik sedini mungkin, termasuk tindakan sementara di Mahkamah Internasional dan tindakan terhadap perusahaan internasional yang terlibat dalam proyek-proyek tersebut.

“Pada akhirnya ini lebih merupakan krisis politik daripada krisis hukum,” katanya. “Namun, intervensi dini sangat penting jika ada harapan untuk membekukan rencana-rencana ini sebelum terjadi perubahan yang tidak dapat diubah.”

Saat otoritas Israel semakin mendekati persetujuan proyek-proyek tersebut, warga Palestina khawatir peluang untuk melestarikan Yerusalem Timur sebagai jantung negara Palestina di masa depan semakin menyempit.