Sinyal Campur Aduk dari Trump Menimbulkan Keraguan tentang Bagaimana Perang Akan Berakhir

Presiden Donald Trump dan pemerintahannya mengirimkan pesan yang beragam tentang kerja sama tersebut. AS-Israel Perang di Iran membuat sekutu, investor, dan pemilih tidak memiliki kejelasan tentang bagaimana atau kapan konflik tersebut akan berakhir. Pada hari ke-10 perang, Trump memberikan serangkaian komentar yang berubah-ubah yang tampaknya menenangkan pasar selama beberapa jam, hanya untuk memperdalam ketidakpastian lagi pada malam harinya.

Setelah awal hari yang bergejolak, dengan pasar yang terguncang dan harga minyak melonjak, Trump mulai menghubungi wartawan dalam upaya untuk meyakinkan investor. Namun, bahkan ketika didesak, jawabannya tetap samar. Dia mengatakan dia memiliki rencana untuk segalanya dan menyarankan perang sudah hampir selesai, sementara juga mengatakan bahwa mengakhirinya sepenuhnya bergantung pada apa yang dia putuskan. Reuters melaporkan bahwa pernyataannya membantu membalikkan sebagian kepanikan pasar hari itu, dengan harga minyak turun tajam setelah sebelumnya melonjak di atas $119 per barel.

Pasar bereaksi lebih cepat daripada pesan kebijakan.

Komentar Trump berdampak langsung pada sentimen investor. Reuters melaporkan bahwa minyak mentah Brent, yang sebelumnya melonjak hingga sekitar $119.50, kemudian jatuh tajam karena para pedagang menafsirkan kata-katanya sebagai tanda bahwa de-eskalasi mungkin sudah dekat. Pasar saham juga stabil setelah pernyataannya meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak yang lebih lama.

Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama. Kemudian pada hari itu, Trump tampaknya mengubah arah, mengatakan perang tersebut sudah dapat disebut sebagai keberhasilan besar tetapi juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat melangkah lebih jauh dan menyerang Iran lebih keras lagi jika terus mengancam lalu lintas kapal tanker di Teluk. Hal itu membuat pertanyaan utama tetap belum terjawab: apakah Washington mencoba mengakhiri konflik, atau bersiap untuk memperluasnya?

Pesan dari Gedung Putih terus berubah.

Beberapa hari sebelumnya, Trump mengatakan perang tidak akan berhenti sampai Iran menerima penyerahan tanpa syarat. Namun, pada hari Senin, pernyataannya mengindikasikan operasi tersebut mungkin akan segera berakhir. Pada malam harinya, ia kembali berbicara tentang mengintensifkan serangan. Reuters melaporkan bahwa pasar semakin bertaruh bahwa Trump mungkin akan mencari jalan keluar cepat, meskipun ancaman dari kedua belah pihak terus berlanjut.

Inkonsistensi tersebut telah mempersulit pemahaman tentang tujuan sebenarnya AS. Terkadang, Trump menggambarkan perang hampir selesai. Di lain waktu, ia menggambarkan misi yang lebih luas yang bertujuan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata yang dapat mengancam Amerika Serikat, Israel, atau sekutu AS selama bertahun-tahun mendatang. Kedua tujuan tersebut belum tentu sama, dan kesenjangan di antara keduanya menambah kebingungan.

Sinyal Campur Aduk dari Trump Menimbulkan Keraguan tentang Bagaimana Perang Akan Berakhir

Bahkan pesan dari pihak militer pun tampak belum pasti.

Ketidakpastian ini tidak hanya terbatas pada pernyataan Trump sendiri. Para pejabat senior juga mengisyaratkan adanya kampanye yang jauh lebih besar di masa mendatang. Sementara Trump menyatakan bahwa perang sudah berjalan dengan baik, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menggambarkan fase selanjutnya yang melibatkan pemboman konvensional yang lebih berat, menyiratkan bahwa operasi tersebut belum mencapai tahap paling intensnya.

Ketika ditanya tentang kontradiksi tersebut, Trump menyarankan bahwa kedua deskripsi itu bisa benar. Dia bahkan menyebut perang itu sebagai awal dari pembangunan negara baru, meskipun dia dan para pembantunya telah berulang kali menolak jenis pembangunan negara ala Irak yang biasanya tersirat dalam frasa tersebut.

Kontradiksi tersebut hanya menambah keraguan tentang apakah AS memiliki strategi politik yang jelas untuk menghadapi langkah selanjutnya.

Kenaikan harga bahan bakar menambah tekanan politik.

Risiko politik meningkat karena dampak ekonomi perang sudah mulai terlihat. Rata-rata harga bensin reguler nasional AAA adalah $3.539 pada 10 Maret 2026, naik tajam dari beberapa minggu terakhir, sementara data BLS menunjukkan pengangguran AS sebesar 4.4% pada bulan Februari dan partisipasi angkatan kerja sebesar 62.0%, yang menggarisbawahi kekhawatiran yang lebih luas tentang perekonomian.

Hal itu penting karena keterjangkauan tetap menjadi perhatian utama bagi para pemilih Amerika. Kenaikan biaya bahan bakar, dikombinasikan dengan tanda-tanda melemahnya pasar tenaga kerja, menciptakan latar belakang yang sulit bagi seorang presiden yang telah mengaitkan sebagian besar pesan politiknya dengan penurunan biaya hidup sehari-hari. Dengan pemilihan paruh waktu yang akan datang pada bulan November, perang ini bukan lagi sekadar cerita kebijakan luar negeri. Ini menjadi risiko politik domestik.

Para pemilih sedang mengamati biaya perang.

Trump bersikeras bahwa kenaikan harga energi apa pun akan bersifat sementara dan bahwa para pemilih akan merasa lebih baik tentang perekonomian pada saat mereka menuju tempat pemungutan suara. Tetapi janji itu mungkin akan diuji lebih cepat dari yang diperkirakan, terutama dalam pemilihan yang dipantau ketat di mana kecemasan ekonomi sudah tinggi.

Yang membuat situasi ini lebih berbahaya secara politik adalah bahwa biaya perang tidak hanya diukur dari keberhasilan militer. Biaya tersebut juga diukur dari harga bensin, ketidakstabilan pasar, dan kekhawatiran publik tentang apakah AS benar untuk terlibat sejak awal.

Bahkan di daerah-daerah konservatif, para pemilih mulai mempertimbangkan harga dari konflik tersebut dibandingkan dengan janji-janji Trump sebelumnya untuk melindungi anggaran rumah tangga dan menghindari keterlibatan asing yang lebih dalam.

Perang dengan klaim keberhasilan tetapi tanpa akhir yang jelas

Pada Senin malam, Trump kembali menyoroti apa yang disebutnya sebagai keberhasilan militer kampanye tersebut, dengan menunjuk pada kerusakan yang ditimbulkan pada angkatan bersenjata dan infrastruktur militer Iran. Namun, klaim di medan perang tidak menjawab pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana konflik ini seharusnya berakhir.

Perang tidak hanya dinilai dari target yang terkena atau rudal yang diluncurkan. Perang juga dinilai dari apakah para pemimpin dapat menjelaskan tujuannya, menentukan hasilnya, dan mendapatkan dukungan publik seiring dengan meningkatnya biaya.

Untuk saat ini, pernyataan Trump yang berubah-ubah justru menghasilkan efek sebaliknya. Alih-alih memperjelas jalan ke depan, pernyataan-pernyataan tersebut malah membuat akhir perang tampak semakin sulit diprediksi.