AS Melacak Kapal Tanker Ketiga yang Terkait dengan Venezuela

Penjaga Pantai Amerika Serikat secara aktif mengejar kapal lain di perairan internasional di dekat Venezuela, kata seorang pejabat AS, menandai tanker ketiga yang diketahui menjadi sasaran bulan ini seiring meningkatnya ketegangan antara Washington dan Caracas.

Menurut pejabat tersebut, pengejaran terbaru melibatkan "kapal armada gelap yang dikenai sanksi" yang dituduh membantu Venezuela menghindari sanksi minyak internasional. Kapal tersebut diduga beroperasi dengan bendera palsu dan dikenai perintah penyitaan yudisial.

Pengejaran ini terjadi setelah pihak berwenang AS menyita dua kapal tanker minyak awal bulan ini, termasuk satu yang dicegat pada hari Sabtu. Venezuela mengecam keras tindakan tersebut, menggambarkannya sebagai tindakan "pencurian dan penculikan."

Sanksi, Minyak, dan 'Armada Gelap'

Washington telah berulang kali menuduh Venezuela menggunakan pendapatan minyak untuk membiayai kejahatan terkait narkoba. Para pejabat Venezuela menolak tuduhan tersebut, dengan alasan AS menggunakan penegakan sanksi sebagai dalih untuk merebut sumber daya negara itu.

Pekan lalu, Donald Trump Ia memerintahkan apa yang ia sebut sebagai "blokade" terhadap kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang memasuki atau meninggalkan Venezuela. Caracas, yang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, mengatakan langkah itu adalah upaya untuk mencekik perekonomiannya dan mencuri kekayaan minyaknya.

Pihak berwenang AS belum secara resmi mengkonfirmasi pengejaran pada hari Minggu tersebut, dan rincian tentang nama kapal tanker dan lokasi pastinya belum diungkapkan.

Data yang dikumpulkan oleh TankerTrackers.com menunjukkan bahwa lebih dari 30 dari sekitar 80 kapal yang beroperasi di atau mendekati perairan Venezuela berada di bawah sanksi AS hingga minggu lalu.

AS Melacak Kapal Tanker Ketiga yang Terkait dengan Venezuela

Kejang Baru-baru Ini Memicu Reaksi Tajam

Penyitaan pada hari Sabtu melibatkan sebuah kapal tanker berbendera Panama yang dinaiki oleh tim taktis khusus AS di perairan internasional. Meskipun kapal tersebut tidak terdaftar dalam daftar sanksi Departemen Keuangan AS, pejabat AS mengatakan bahwa kapal itu mengangkut minyak milik perusahaan milik negara Venezuela, PDVSA.

Catatan pengiriman yang ditinjau oleh penyelidik media menunjukkan bahwa kapal tanker tersebut telah berlayar di bawah beberapa bendera dalam beberapa tahun terakhir, termasuk Yunani dan Liberia.

Sebagai tanggapan, pihak berwenang Venezuela memperingatkan bahwa tindakan tersebut "tidak akan dibiarkan tanpa hukuman," dan mengumumkan rencana untuk mengajukan pengaduan kepada Dewan Keamanan PBB dan badan-badan internasional lainnya.

Ekspor minyak tetap menjadi sumber pendapatan utama pemerintah Venezuela, sehingga penyitaan kapal tanker menjadi ancaman langsung bagi perekonomian negara yang sudah rapuh.

Meningkatnya Tekanan Militer dan Dampak Politik

Dalam beberapa minggu terakhir, AS telah memperluas kehadiran militernya di Karibia dan melakukan serangan mematikan terhadap kapal-kapal yang diklaim terlibat dalam penyelundupan narkoba, menewaskan sekitar 100 orang. Operasi-operasi tersebut telah menuai sorotan yang semakin besar dari para anggota parlemen AS, dengan para kritikus mencatat kurangnya bukti yang dirilis secara publik yang menghubungkan kapal-kapal yang menjadi sasaran dengan perdagangan narkotika.

Pemerintahan Trump juga telah menjatuhkan sanksi kepada kerabat Presiden Venezuela. Nicolás Maduro dan bisnis-bisnis yang terkait dengan apa yang Washington sebut sebagai pemerintahan tidak sahnya. Maduro membantah tuduhan AS bahwa ia memimpin organisasi terkait narkoba yang dikenal sebagai Cartel de los Soles.

Sekretaris Negara AS Marco Rubio Pada hari Jumat, Perdana Menteri Venezuela mengatakan bahwa hubungan saat ini dengan Caracas "tidak dapat ditoleransi" dan mengisyaratkan bahwa Washington bermaksud untuk mengubah situasi tersebut. Menteri Luar Negeri Venezuela mengkritik keras pernyataan tersebut, menuduh Rubio mendorong AS menuju kebijakan perubahan rezim.

Saat AS terus mengejar kapal-kapal yang terkait dengan minyak Venezuela, operasi terbaru ini menggarisbawahi bagaimana penegakan hukum maritim telah menjadi front utama dalam kebuntuan yang semakin meluas antara kedua negara.